Leisha Patidar menjadi sorotan setelah serangkaian reel bertema FIFA yang menyilangkan dunia kecantikan dan sepak bola. Leisha Patidar mengatakan eksperimen itu bukan sekadar mengejar jangkauan, melainkan cara baru menyampaikan konten makeup menggunakan bahasa visual olahraga.

Video dari seri tersebut dipublikasikan mulai 9 Juni dan salah satu unggahan mencatat angka tontonan organik yang luar biasa: lebih dari 27,6 juta view dalam 18 jam. Keberhasilan itu membuat Patidar mempertimbangkan kembali batas genre konten yang biasa ia garap selama ini.
Langkah tidak terduga dari pembuat konten kecantikan
Patidar, yang telah berkarya sejak 2020 dan kini memiliki lebih dari 1 juta pengikut, memulai perjalanan membuat konten kecantikan saat masa lockdown Covid setelah menyelesaikan kelas 12. Ia mengenang memulai dengan perlengkapan terbatas: dari sekitar lima produk, ia bisa menciptakan belasan tampilan dan mulai rutin membagikannya di media sosial.
Ide mengaitkan makeup dengan bendera negara dan kegilaan sepak bola muncul ketika percakapan tentang olahraga itu sedang mencapai puncak online. Menurutnya, pendekatan itu membuat konten tetap berada di ranah kecantikan sekaligus merangkul penonton baru dari komunitas penggemar sepak bola.
Respon audiens dan tantangan pribadi
Meski kini diakui luas, perjalanan Patidar tidak bebas kritik. Ia membagikan pengalaman mendapat komentar negatif terkait warna kulitnya di awal karier: “I am a dusky skin tone girl from India. I used to get a lot of hate in my comment section about me being dusky and why I should do makeup,” kata Patidar. Komentar seperti itu sempat memengaruhi keadaan mentalnya, namun dukungan pengikut membuatnya terus berkarya.
Seri FIFA juga mendatangkan demografi baru. Patidar menyebutkan peningkatan pengikut laki-laki setelah unggahan tentang sepak bola: “After posting about FIFA, I got a massive following from men. It combined two genres together and created something new.” Ia menganggap kombinasi kecantikan dan olahraga itulah yang membuat konten tersebut meluas ke berbagai negara.
Pandangan soal tren dan ekosistem kreator
Selain berbicara soal konten viral, Patidar memberikan catatan tentang dinamika industri kreator. Ia menekankan pentingnya orisinalitas meski tren berperan untuk menarik perhatian awal. “You need to be your authentic self to capture those first three seconds or else people will scroll,” ujar Patidar, mengingatkan bahwa ada puluhan tren setiap minggu dan tidak mungkin mengikutinya semua hanya demi relevansi.
Patidar juga menyadari berubahnya pola kerja sama merek. Menurutnya, saat ini brand lebih selektif dibanding sebelumnya, sehingga kreator harus memilih kolaborasi yang sesuai dengan audiens dan keotentikan mereka. Ia mengaku dikelola oleh Monk Entertainment sejak awal karier, dan merasakan manfaat dukungan agensi untuk urusan brand dan peluang yang lebih besar.
Kerja keras di balik layar dan rencana ke depan
Patidar menolak anggapan bahwa pembuatan konten selalu mudah hanya karena mendapat produk atau tawaran. Untuk seri FIFA, salah satu video membutuhkan waktu delapan jam produksi, sementara keseluruhan rangkaian tampilan diselesaikan dalam tiga hari. Ia mengingatkan bahwa usaha tim dan proses kreatif sering luput dari pandangan publik.
Memandang ke depan, Patidar ingin melebarkan sayap ke segmen lifestyle, travel, kuliner, serta vlogging di YouTube. Ia juga terbuka pada peluang berakting dan berencana membangun usaha di luar media sosial, tanpa merinci detailnya. Konsistensi menjadi kunci perjalanan kariernya: sejak usia 17 tahun ia rutin tampil dan berkarya setiap hari.
Ketika ditanya lebih memilih sebuah reel viral atau komunitas yang setia, jawabannya tegas: “A viral reel with my loyal community.” Pernyataan itu menutup gambaran seorang kreator yang menyeimbangkan ambisi pertumbuhan dengan kesetiaan audiens.

