Cokelat sering dinikmati sebagai camilan atau pemanjalah suasana hati, tetapi kapan kita mengonsumsinya bisa memengaruhi efeknya pada tubuh. Fokus pada waktu makan cokelat menjadi penting setelah sebuah penelitian tahun 2021 menunjukkan perbedaan manfaat tergantung apakah cokelat dikonsumsi di pagi hari atau menjelang tidur.

Sebelum menilik hasil penelitian itu, penting diingat bahwa meskipun beberapa komponen cokelat gelap—seperti serat dan polifenol yang baik bagi jantung—memiliki manfaat, hal tersebut tidak otomatis membuat cokelat menjadi makanan sehat secara keseluruhan. Penelitian yang mengaitkan kakao dengan kesehatan jantung kerap merujuk pada kebiasaan minum biji kakao tanah oleh kelompok tertentu yang mengonsumsi banyak cangkir per hari dengan sedikit tambahan gula dan lemak. Di sisi lain, konsumsi cokelat berlebih berisiko meningkatnya penyakit jantung, dan asupan gula berlebih—sekitar 30 g per hari—dapat merusak gigi.
Manfaat konsumsi cokelat di pagi hari
Penelitian yang dipublikasikan pada 2021 melibatkan peserta wanita pascamenopause. Mereka yang mengonsumsi 100 g cokelat dalam satu jam setelah bangun tidur menunjukkan penurunan rasa lapar dan keinginan makan makanan manis sepanjang hari. Kelompok pagi juga mencatat penurunan gula darah puasa, penyusutan lingkar pinggang selama periode 14 hari, serta peningkatan kemampuan tubuh untuk membakar lemak.
Peneliti yang terlibat menyoroti pentingnya waktu makan selain jenis makanan. “Our findings highlight that not only ‘what’ but also ‘when’ we eat can impact physiological mechanisms involved in the regulation of body weight.” Kutipan ini menekankan bahwa ritme konsumsi makanan memengaruhi mekanisme fisiologis yang terkait pengaturan berat badan.
Efek bila dimakan pada malam hari
Kelompok yang diberi cokelat sekitar satu jam sebelum tidur juga mengalami pengurangan konsumsi makanan manis, namun efeknya sekitar separuh lebih kecil dibandingkan kelompok pagi pada pengurangan asupan tambahan. Konsumsi malam hari mendatangkan beberapa efek lain: keteraturan waktu tidur membaik, tingkat aktivitas fisik hari berikutnya bertambah, dan tubuh tampak lebih cenderung membakar karbohidrat.
Meski menambah asupan kalori, baik kelompok pagi maupun malam tidak mengalami kenaikan berat badan di akhir studi dua minggu. Dr Marta Garaulet mengemukakan observasi penting terkait hal ini: “Our volunteers did not gain weight despite increasing caloric intake. Our results show that chocolate reduced ad libitum [‘at will’: non-ordered] energy intake, consistent with the observed reduction in hunger, appetite and the desire for sweets shown in previous studies.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa cokelat dapat menekan asupan bebas yang umumnya terjadi bila seseorang makan tanpa aturan ketat.
Batasan penelitian dan saran kehati-hatian
Penting dicatat bahwa penelitian ini hanya melibatkan wanita pascamenopause sehingga temuan belum tentu berlaku untuk kelompok populasi lain. Peneliti menyatakan bahwa diperlukan studi lanjutan untuk memahami implikasi hasil ini lebih luas.
Selain itu, cara konsumsi cokelat yang dibandingkan dalam riset berbeda jauh dari kebiasaan beberapa komunitas yang menikmati kakao tanpa tambahan gula dan lemak berlebih; misalnya disebutkan kebiasaan meminum “many, many cups” (lebih dari lima) cangkir kakao yang digiling—kondisi yang tidak setara dengan konsumsi cokelat batangan komersial pada umumnya.
Bagi pembaca yang ingin mencoba, temukan keseimbangan: pertimbangkan porsi, perhatikan total asupan gula harian, dan ingat bahwa bukti ini spesifik pada kelompok studi. Waktu konsumsi mungkin berperan, tetapi cokelat tetap bukan pengganti pola makan sehat secara keseluruhan.

