Membangun brand kultus menjadi perhatian dalam kabar terbaru ini. Dalam sebuah sesi tanya jawab yang dipublikasikan pada 5 Agustus 2026, Jessica Hatzis dari Frank Body membagikan pandangannya tentang apa yang sering disalahpahami pendiri saat merancang merek yang punya pengikut setia. Topik utama yang ia angkat menyentuh keputusan strategis yang jarang tampak jelas pada permukaan.

Menurut Hatzis, proses membangun brand kultus bukan sekadar mengikuti metrik yang populer atau meniru praktik yang tampak berhasil di permukaan. Ada kebijakan dan naluri yang kerap menentukan arah, termasuk kapan harus percaya pada insting, kapan menantang data, dan kapan menghentikan upaya tertentu.
Keputusan yang tak selalu tampak jelas
Hatzis menekankan bahwa keputusan yang membentuk identitas merek seringkali tidak bersifat intuitif bagi orang luar. Elemen-elemen yang kelihatan sederhana—seperti nada komunikasi, fokus produk, atau batasan inovasi—dapat menjadi penentu utama apakah sebuah merek mampu membangun basis penggemar yang loyal. Ia mengingatkan bahwa menentukan prioritas bukan hanya soal data, melainkan pemahaman mendalam tentang karakter merek dan komunitas yang ingin dibangun.
intuisi dan data
Salah satu poin sentral yang diangkat adalah pentingnya keseimbangan naluri pendiri dan analisis data. Hatzis menggarisbawahi perlunya ‘percaya pada insting’ pada momen-momen tertentu, terutama ketika data belum mencerminkan potensi jangka panjang atau ketika metrik dapat menipu arah kreatif. Pada saat yang sama, ia menyarankan agar data tetap menjadi alat penting untuk menguji hipotesis dan mengukur dampak, tetapi bukan satu-satunya penentu keputusan strategis.
Tahu kapan harus berhenti
Sebuah aspek yang sering luput dibahas adalah kemampuan untuk menghentikan inisiatif yang tidak memberikan hasil yang diharapkan. Hatzis menyoroti bahwa kapasitas untuk menarik diri dari ide yang tidak efektif adalah bagian dari kebijaksanaan membangun merek. Mengetahui kapan harus mengubah fokus atau menghentikan proyek dapat mencegah sumber daya terkuras dan menjaga konsistensi pengalaman merek yang ingin dipertahankan.
Implikasi bagi para pendiri
Bagi pendiri, pelajaran ini menuntut kombinasi keberanian dan kehati-hatian. Keberanian diperlukan untuk mempertahankan visi yang tidak langsung terlihat di angka-angka awal; kehati-hatian diperlukan untuk menghormati sinyal pasar dan mengoreksi arah ketika bukti menunjukkan perubahan yang perlu dilakukan. Hatzis mendorong pendiri agar membangun mekanisme pengambilan keputusan yang memungkinkan iterasi terukur tanpa mengorbankan esensi merek.
Secara keseluruhan, perspektif yang disampaikan menegaskan bahwa membangun brand kultus adalah proses berlapis yang memerlukan keputusan sadar mengenai apa yang harus dipertahankan dan apa yang perlu diuji ulang. Fokus pada komunitas, konsistensi identitas, serta keberanian untuk bertindak di luar kebiasaan metrik konvensional menjadi poin penting yang dapat dipertimbangkan oleh pemimpin merek di berbagai tahap pengembangan.
